Farid Gaban

Menghindari Kata Sifat

In Teknik Menulis on December 5, 2010 at 8:25 am

 

Tulisan yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata-kata sifat seperti tinggi, kaya, cantik, dan kata tak tidak spesifik, cukup besar, lumayan heboh, keren abis.

”Kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda,” kata pujangga Prancis Voltaire.

Contoh:
1. Konser Peterpan itu heboh banget.

Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200.000 sudah habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu “Ada Apa Denganmu”.

2. Bangunan itu cukup tinggi

Hotel berbintang lima itu terdiri atas 25 lantai, tinggi totalnya menyamai Menara Monas

3. Ahmad seorang petani miskin.

Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap rumbia. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.

4. Rumah Haji Kalla sangat luas.
Rumah Haji Kalla berarsitektur Jawa dibangun di atas tanah seluas 0,5 hektar, atau setengah lapangan bola.

5. Mak Eroh marah besar.

“Pemerintah zalim!” kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kanaikan harga solar.*

 

KUNCINYA: “LUKISKAN, BUKAN KATAKAN”

 

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan itu?

Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai, artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.

Bagaimana cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup?

Cara terbaik untuk melakukannya adalah menerapkan konsep “Show Not
Tell” atau “Lukiskan, bukan Katakan”. Ubahlah pernyataan
yang kering dan kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi memukau.

Perhatikan kalimat ini: “Hari itu sangat indah.”

Kalimat “telling” itu bisa diubah menjadi paragraf “showing” seperti ini:

“Ketika membuka jendela pada hari Sabtu pagi itu, dia merasakan segarnya udara. Daun-daun di setiap pohon berkilau memantulkann cahaya matahari. Bunga-bunga mawar warna pelangi berderet di halaman dan seperti berteriak ‘Musim Semi!’ Awan seputih kapas bergumpal di atas latar langit biru yang cemerlang.”

 

Atau coba perhatikan: “Nasib nenek itu sangat malang”

Dan bandingkan dengan ini:

Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar-kumuh Kota Bandung, mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. “Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam.”

Jika kita menggunakan konsep “Show Not Tell”, paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah dikenang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: