Farid Gaban

Apa sih Berita itu?

In Teknik Jurnalistik on December 5, 2010 at 8:20 am

Banyak wartawan – sekalipun yang telah belasan tahun memproduksi berita – sering salah tingkah setiap kali mendengar pertanyaan itu. Mereka sebenarnya tahu apa itu berita tapi selalu gagal mendefinisikannya.

Anda mungkin sudah pernah mendengar definisi klasik yang satu ini: “Saat anjing menggigit manusia, itu bukan berita. Tapi saat seorang manusia menggigit anjing, itu baru berita.”

Atau defenisi berita dari Turner Catledge dari New York Times: “Berita adalah apa yang tidak Anda ketahui kemarin.”

Atau defenisi sinis macam ini:

•    “Segalanya berita jika Anda tahu cara menuliskannya.”
•    “Berita adalah apa yang diinginkan editor Anda.”
•    “Berita adalah apa yang ingin disembunyikan seseorang – selebihnya adalah iklan.”

Ada reporter yang terlahir memang dengan ketajaman penciumannya akan berita. Ada juga yang mesti banting tulang sampai bisa memilikinya. Dan banyak juga yang tidak pernah bisa memilikinya.

Tidak ada jalan pintas untuk membangun rasa berita – ini masalah pengalaman.

Tapi Anda setidaknya dapat memulai dengan mencoba membayangkan siapa audiens Anda dan mempertimbangkan seberapa penting yang hendak Anda sampaikan. Selain itu, Anda bisa berpedoman pada standar penyeleksian berita yang jamak di ruang-ruang pemberitaan:

•    Dampak — Berapa banyak orang yang terpengaruh oleh kejadian yang akan diberitakan? Seberapa serius dampaknya ke mereka?
•    Kedekatan — Sebuah kejadian akan menjadi lebih penting jika lokasinya dengan pembaca. Gempa bumi di seberang samudera tak bakal semenarik tabrakan beruntun di lingkungan pembaca.
•    Aktual – Apakah kejadiannya baru saja? Berita mesti segar supaya berguna bagi pembaca.
•    Konflik: Ini bumbu terpenting dunia penceritaan. Tanpa konflik, banyak literatur, drama dan film yang bakal hambar. Dari Shakespeare sampai Disney, konflik selalu memegang peran penting. Koran, majalah dan radio juga begitu.
•    Nama: Nama membuat berita dan nama besar menjadikan berita semakin besar. Orang kebanyakan selalu ingin tahu segala hal tentang jutawan dan atau selebriti, misalnya.
•    Keunikan — Yang “pertama”, yang “terakhir”, “satu-satunya” punya kekuatan tersendiri untuk membetot perhatian pembaca atau pirsawan.
•    Audiens — Siapa mereka? Jawaban pertanyaan itu akan membantu menentukan apakah sebuah kejadian layak diberitakan, dan jika benar, dibagian mana ia akan ditempatkan?

Jika Anda memahami klasifikasi itu, Anda akan segera mengerti kenapa sebuah tabrakan mobil di Papua tak pernah muncul di halaman depan The New York Times. Kenapa tabrakan maut di ruas tol Jagorawi tak pernah menjadi headline di The Star, Malaysia.

Lalu bagaimana seseorang bisa mengembangkan rasa berita?

Saran praktis adalah merengkuh setiap peluang untuk mempelajarinya. Baca koran dan majalah sebanyak yang Anda bisa, setiap hari. Bandingkan mereka satu per satu. Bandingkan koran-koran lokal di daerah Anda. Bandingkan koran berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. Bandingkan Tempo dan Gatra. Bandingkan Kompas dan Koran Tempo. Bandingkan Time, Newsweek, dan The Economist.

REPORTASE

MENULIS BERITA pada dasarnya fase kedua dalam pekerjaan seorang reporter. Yang pertama adalah mencari berita. Bagaimana reporter mengumpulkan berita?

Mereka biasanya menggunakan tiga metode ini:

•    Observasi: mendatangi tempat peristiwa
•    Berbicara dengan orang-orang di jalan
•    Melakukan investigasi.

Tiga metode ini menjadi dasar semua liputan dan tulisan yang cemerlang. Malah, informasi yang menyeluruh, sekalipun ditulis amburadul, masih lebih baik ketimbang tulisan yang tanpa substansi.

Reporter pemula seperti Anda sebaiknya mengikuti jejak mereka yang telah berpuluh tahun bergelut di ruang pemberitaan: merengkuh keterampilan reportase dari pengamatan dan diskusi. Ada banyak kiat reportase yang bisa Anda ambil dari sana sini. Tentu saja, Anda juga akan belajar banyak dari kesalahan dan kekurangan sepanjang karir.

Reporter pemula biasanya mengawali kerja mereka di ruang redaksi dengan penugasan sederhana. Editor, misalnya, akan meminta Anda memperkaya detil sebuah berita, mengecek beberapa pertanyaan, atau memburu rumor. Setelahnya, mereka mungkin akan menugaskan Anda menulis berita rutin seperti obituari, konferensi pers, kebakaran, perubahan cuaca, seminar, tabrakan mobil dan kasus-kasus kriminal minor lainnya.

KECELAKAAN DAN MUSIBAH

SEMUA kecelakaan dan musibah – tabrakan mobil, pesawat jatuh, kapal karam, orang tenggelam, kebakaran, banjir, gempa bumi, badai dan segala jenis bencana – punya satu kesamaan. Mereka tidak terduga.

Meliput kasus kecelakaan atau musibah menuntut kecakapan jurnalisme yang sama dengan meliput spot news yang lainnya. Situasi menuntut si reporter bekerja cepat, mengumpulkan segala informasi kunci secara akurat dan menuliskannya dengan elok dan berimbang.

Prinsipnya sama: get it right write it tight.

Tentu saja, wartawan yang bisa begitu itu adalah mereka yang penuh kehati-hatian, punya ketajaman akan berita, pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh serta bisa tenang dalam situasi apapun.

Trik penting dalam jurnalisme adalah si reporter mesti tahu kemana pergi mencari berita, siapa yang akan ditemui, dan pertanyaan apa yang harus ditanyakan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Ini artinya, reporter harus tahu tentang masyarakat, pemerintah, hukum – pendeknya, tahu segala hal. Pengetahuan ini sangat penting saat meliput kasus kecelakaan atau musibab sebab reputasi seorang reporter bisa rusak jika dia bertanya ke sumber yang salah.

Dalam kasus kebakaran misalnya, akan berbahaya jika reporter mendapatkan taksiran kerusakan atau penyebab kebakaran dari saksi mata, korban yang selamat atau petugas pemadam kebakaran yang sibuk. Jelaslah, orang yang paling tepat untuk dia temui untuk mengetahui sebab kebakaran adalah kepala pemadam kebakaran. Tapi Anda tak mesti menelan mentah-mentah semua yang dikatakan kepala pemadam kebakaran. Bahkan informasi dari pihak otoritas mesti diperiksa dan diperiksa kembali.

Kecelakaan dan musibah sering terjadi sehingga beberapa pertanyaan rutin bisa segera diajukan. Tentu saja, tidak semua pertanyaan rutin ini bisa ditanyakan pada setiap kejadian, tapi mereka bisa dipertimbangkan:

•    Apa yang terjadi? (kebakaran? tabrakan? banjir?)
•    Di mana kejadiannya?
•    Siapa-siapa saja yang terlibat (terluka? tewas?)
•    Siapa-siapa saja yang terluka? (nama, alamat, umur, pekerjaan, status pernikahan)
•    Di mana mereka sekarang? (rumah sakit, rumah, dll?)
•    Kondisi terakhir mereka seperti apa?
•    Siapa yang meninggal? (nama, alamat, umur, pekerjaan, status pernikahan,
•    Di mana mayatnya? (rumah sakit, rumah, dll?)
•    Keluarga yang selamat.
•    Bagaimana kerusakannya? (apa saja yang rusak? mobil, pesawat, kapal, rumah, dll?)
•    Berapa estimasi kerugian?
•    Siapa pemiliknya?
•    Apa penyebab kecelakaan? (kebakaran, tabrakan?)
•    Bagaimana dengan upaya penyelamatan?
•    Saksi mata?
•    Bagaimana kecelakaan bisa sampai terjadi? (deskripsi setahap demi setahap tentang apa yang terjadi?)
•    Apakah ada persoalan hukum yang muncul setelah ini?
•    Apa latar belakang yang penting untuk penulisan ini?

Daftar pertanyaan ini dapat menolong reporter baru di lapangan. Intinya, dia mesti punya gambaran yang jelas tentang pertanyaan dasar saat meliput kecelakaan. Setelah lama, dia mungkin akan membangun model penggalian bahan untuk setiap penugasan serupa.

Ada satu pertanyaan – selain pertanyaan dasar seperti siapa, apa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana – yang seorang reporter mesti tanyakan ke dirinya sendiri setiap kali meliput kasus kecelakaan atau musibah: “Adakah hal yang spesial dari kecelakaan atau musibah kali ini?”

Pertanyaan ini memungkinkan si reporter mencatat banyak detail yang mungkin lepas dari pengamatan reporter lainnya dan akan membantunya menemukan sudut penceritaan yang memikat. Sebab sebuah berita kebakaran yang hanya berdasar pada pertanyaan rutin akan membosankan untuk dibaca. Percayalah.

Sekali lagi, menulis berita kecelakaan dan musibah semua hal esensial seperti dalam menulis berita lainnya: lead (paragraf pembuka) berisi informasi kunci, diiikuti detil bertingkat dan kutipan agar peralihan lebih mulus, alur logis untuk menggambarkan kejadian, menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dan menambahkan warna dan drama pada kejadian itu.

Lead menentukan nada dan perlakuan pada sebuah berita kecelakaan atau musibah, seperti pada berita lainnya. Lead singkat dan menggigit akan cocok untuk reportasi yang tak terduga, cepat, kejadian dramatis, sementara kalimat panjang cenderung mengaburkan drama.

Ini contohnya:

“Di tengah cuaca yang buruk, Selasa (30/11) sore sekitar pukul 18.15, pesawat Lion Air jenis MD-82 tergelincir di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo. Dalam kecelakaan pesawat yang mengangkut 156 penumpang jurusan Jakarta-Solo itu sedikitnya 23 penumpang tewas dan 61 orang lainnya luka-luka.”

Akan lebih baik jika lead 42 kata ini ditulis begini:

“Sebuah pesawat maskapai penerbangan Lion Air koyak dan terpotong dua setelah tergelincir di Bandara Udara Adi Sumarmo, Solo, kemarin. Puluhan penumpangnya tewas dan terluka.”

Lead 24 kata ini menyarikan seluruh kejadian. Padat, langsung dan membawa sense of urgency.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: